Kehidupan Suku Asmat Tersaji di Balai Soedjatmoko

Admin Sistem | 92


Lima anak muda yakni Salmon Pirap Saky, Simon P. Sarkol, Maria Sucianingsih, Asep Nanda Paramaya, dan F.X. Bima Adimoelya mengabadikan kehidupan Suku Asmat di Papua melalui bidikan lensa kamera.

Foto-foto yang diambil saat mereka melakukan misi sosial ke Papua itu dipamerkan di Balai Soedjatmoko Solo, Rabu-Senin (17-22/6/2015) dengan tema Anak, Perempuan, dan Budaya Asmat.

Dari sekitar 90 foto yang dipamerkan, ada yang mengangkat kondisi pendidikan anak-anak, kegiatan para perempuan membuat kerajinan tas dari bahan alam, serta kegiatan laki-laki di Suku Asmat yang membuat perahu dan ukir-ukiran dari kayu.

Ada juga gambaran tentang pesta budayanya dan bagaimana mencari makanan pokok mereka yakni sagu.

Pameran itu merupakan kerja sama antara Komunitas Jajar Wadon di Solo dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Satunama di Jogja.

Menurut Program Officer Asmat Makmur LSM Satunama Jogja, Maria Sucianingsih, pameran itu merupakan hasil pendampingan LSM tersebut di Papua mulai 2013 hingga saat ini.

“Awalnya, kami melakukan pendampingan di Suku Asmat untuk kedaulatan pangan mereka. Sebab, Suku Asmat mulai beralih pada konsumsi beras sehingga orang yang makan sagu mulai berkurang. Kami ingin tahu penyebabnya. Tapi, seiring berjalannya waktu, kami juga mendampingi mereka untuk hal lain seperti kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraannya,” katanya saat ditemui solopos.com di sela-sela pameran, Rabu (17/6/2015).

Menurutnya, Suku Asmat masih kental dalam hal perbedaan gender. Salah satunya, kerajinan ukiran dan perahu kayu yang hanya boleh dibuat laki-laki. Sementara, para perempuan hanya boleh membuat tas dari bahan alam tetapi tidak boleh memamerkannya saat pesta budaya.

“Kami berharap dari pameran itu bisa menunjukkan kondisi Suku Asmat di Papua yang masih tertinggal. Padahal, mereka masih orang Indonesia. Kami juga membuat laporan hasil pendampingan di Asmat dalam sebuah buku dan kumpulan foto. Nantinya, kedua buku tersebut kami jual dan dananya untuk membantu kehidupan Suku Asmat,” tuturnya.

Selain pameran, juga ada launching buku tentang Asmat dan diskusi buku tersebut pada Sabtu (20/6/2015).

Sementara itu, salah satu pengunjung pameran,Tyas, mengatakan pameran itu menambah pengetahuannya terkait kehidupan suku-suku di Indonesia.

“Saya jadi lebih tahu bagaimana kehidupan Suku Asmat di Papua. Tentang kerajinan, makanan tradisional, dan budayanya dari foto-foto itu. Ternyata masih ada orang Indonesia yang tinggal di wilayah terpencil dan memerlukan perhatian pemerintah,” kata dia.